

Pada 19 November 2025, akun resmi University of Oxford mengumumkan bahwa tim dari Oxford Botanic Garden berhasil menyaksikan mekarnya Rafflesia hasseltii di hutan hujan Sumatra. Namun dalam unggahan tersebut, hanya nama peneliti dari Oxford yang disebut sedangkan nama-nama peneliti dan konservasionis lokal Indonesia tidak dicantumkan.
Unggahan itu langsung memicu sorotan publik, terutama dari warganet Indonesia yang menyoroti bahwa peran peneliti lokal tidak bisa dianggap remeh.
Menanggapi hal ini, Anies Baswedan angkat suara melalui akun X-nya pada 23 November 2025. Ia menegaskan bahwa peneliti Indonesia yakni Joko Witono, Septi Andriki, dan Iswandi bukan sekadar figuran atau “pelengkap.” Dalam pesannya ia menulis:
“Dear @UniofOxford, para peneliti Indonesia kita Joko Witono, Septi Andriki, dan Iswandi bukanlah NPC. Sebutkan juga nama mereka.”
Dengan kata “NPC” (Non-Playable Character), Anies menyindir anggapan bahwa peneliti lokal hanya sebagai pendamping atau latar belakang, bukan bagian penting dari penemuan ilmiah — padahal kontribusi nyata mereka tak bisa diabaikan.
Tanpa kehadiran mereka, termasuk pengetahuan lokal mengenai lokasi dan waktu mekar bunga, peluang menemukan Rafflesia hasseltii bisa jauh berkurang.
Setelah gelombang kritik dari publik dan tokoh seperti Anies Baswedan, Oxford University memperbarui unggahan mereka. Kini mereka mencantumkan nama peneliti dan konservasionis Indonesia yang terlibat Joko Witono, Septi Andriki, dan Iswandi serta mengakui bahwa ekspedisi adalah hasil kolaborasi tim internasional dan lokal.
Dalam unggahan revisi, Oxford menyebut bahwa penemuan Rafflesia hasseltii merupakan hasil kolaborasi antara peneliti dari Oxford Botanic Garden, peneliti BRIN dan lokal, serta pemandu setempat.
Penutup: Pelajaran dari Insiden ini
Kasus ini menunjukkan bahwa dalam riset dan eksplorasi biodiversitas terutama di negara dengan keanekaragaman hayati tinggi seperti Indonesia kolaborasi internasional dan lokal harus diiringi dengan penghargaan yang adil dan transparan.
Permintaan dari Anies Baswedan untuk memasukkan nama peneliti Indonesia bukan sekadar soal ego, melainkan soal keadilan, etika, dan penghormatan terhadap kontribusi nyata. Respons Oxford yang akhirnya mencantumkan nama peneliti lokal adalah langkah positif dan semoga jadi preseden baik bagi kolaborasi ilmiah di masa depan.
Kampanye ‘Behind the Scenes’ sebagai Teknik Promosi Kreatif yang Jarang Dicoba
18 Apr 2025 | 233
Dalam dunia pemasaran yang terus berevolusi, banyak perusahaan mulai mencari teknik promosi yang dapat menarik perhatian audiens dengan cara yang baru dan segar. Salah satu teknik promosi ...
Ini Dia 6 Manfaat Daun Pandan dalam Beragam Masakan
2 Maret 2020 | 1667
Pandan adalah salah satu tumbuhan yang diambil daunnya untuk dipakai dalam beragam olahan masakan. Tetapi apa saja sebetulnya manfaat daun pandan dalam beragam masakan? Untuk yang belum ...
Mitos dan Fakta tentang Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Andalas yang Wajib Diketahui
13 Maret 2025 | 351
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Andalas (FKG Unand) merupakan salah satu fakultas yang banyak diminati oleh calon mahasiswa di Indonesia. Meski begitu, banyak mitos yang beredar di ...
Pentingnya Real-Time Feedback melalui Social Listening
6 Maret 2025 | 315
Dalam era digital saat ini, interaksi antara perusahaan dan pelanggan telah berevolusi secara signifikan. Salah satu cara yang paling efektif untuk memahami kebutuhan dan keinginan ...
Akankah Publik Percaya pada Janji Prabowo dalam Memperkuat KPK?
12 Feb 2024 | 931
Isu penindakan tindak pidana korupsi menjadi salah satu topik yang dibahas dalam debat calon presiden yang diselenggarakan di Jakarta pada hari Selasa, 12 Desember 2023. Penyelesaian ...
Panduan Menulis Judul Menggunakan Teknik Clickbait yang Sukses
28 Jun 2024 | 655
Menulis judul yang menarik dan mengundang klik merupakan salah satu kunci utama dalam dunia konten online. Teknik clickbait menjadi strategi penting dalam menarik perhatian pembaca dan ...